Rabu, 30 Maret 2016

Remaja

Peralihan dari segalanya
Emosi dan perilaku
Tingkah yang tak berprinsip
Meraba-raba apa yang terbaik
 
    Intelegensi begitu tipis
    Nafas berhembus cepat
    Jantung berdegup dengan memburu
    Darah berdesir kasar dibalik kulit

Begitu terus dirasa
Hingga mencapai titik dewasa
Abnormal
Terkadang semu dalam perilaku

    IQ,EQ,SQ
    Terus berputar dalam fikir
    Kenapa semua terhubung dan tercipta
    Dalam setiap insan yang berakal

Segala nasihat
Merembes dalam hati
Kadang terpental, kadang diresapi
Menjadi patokan berperilaku
Menjadi pacu dalam berhidup

    Selalu dilingkupi pilihan
    Tak tau yang baik maupun menyimpang
    Korelasi terputus dalam bingkai bimbang
    Sensitif mendengar runtutan pendapat

Merubah pilihan dalam sekejap
Dalam ironi jurang kesalahan
Sayapnya putus, tak bisa terbang
Tak bisa menembus batas langit
Tak bisa merubah nasib pilihan

    Remaja,
    Masa penentu penuh kontradiksi
    Dalam lingkup ruang yang sempit
    Mempersempit pilihan,tuk memilih jati diri

Dari nasihat seorang guru yang bijak dan sabar,Yth. Bpk. Lismayadi
 @penulisilau





Selasa, 29 Maret 2016

Love Puberty

Love Puberty
Why you come?

Apakah tujuanmu hanya menyiksa?
Membuat hati senang atau menyayat jiwa

Mengiris-iris hingga puas
Memberi pemanis di permukaan
Polesan minyak terlihat berkilauan
Agar menyelimuti luka hati

Love Puberty 
Datang mengejutkan ku
Pulang menyiapkan ku
Merubah jiwa kekanakan
Menjadi lagaknya dewasa

Menjadi seorang puitis
Yang prematur lagaknya romantis
Merasa master of love
Padahal rookie berasmara
Yang juga terbawa derasnya arus cinta
Terombang-ambing di lautan asmara

Love Puberty
Kau merubahku layaknya layang layang
Membuatku melayang bebas dalam batas benang gelas
Ditarik ulur senada irama udara
Namun semilir angin menjadi badai besar

Ku terputus dari untaian tipis
Yang membatasi gerakan dinamis
Ku melayang bebas tanpa arah
Terhantam badai menghancurkan rangka

Sang penggamit
Kini membebaskan layang
Menjadi remuk lalu membentuk baru
Menjadi wau yang lebih kuat
Yang tahan dengan hantaman badai

Bukan ku saja yang terlepas
Sang bunga mekar berserakan terbawa angin
Harumnya bebas,bertebar kelopak indah
Putih bersih melambang suci
Gradasi hijau muda menandakan bebas

Ku terus menunggu hitungan mantap
Tuk merangkum tebaran kelopak
Namun,malang nasibnya layaknya layang-layang
Telah di genggam oleh sang tuan

Ku hanya menanti genggamannya lekang
Menanti sadarnya si kelopak dalam buruknya genggaman
Menunggu hingga lelah sampai pada lembayung senja

Terima kasih love puberty
Atas segala siksaan penuh arogansi
Mengintimidasi, menempah mental baja para remaja
Merasakan cinta adegan ftv romansa

Derasnya pacuan hormon
Getaran hati bebas kontrol asa
Terlepas bebas,refleks rasa ciptaan Tuhan
Yang melepas gamitan layang-layang

Merubahku menjadi riil khalifa
Mukmin sejati andalan
Pemimpin bumi yang mati dalam cinta
Tawakkal hati,jati diri tercipta

Hormon Super Wave
Love Puberty
@penulisilau

   

Sabtu, 26 Maret 2016

Kamis, 24 Maret 2016

Masih Mencari Langit

Sebuah puisi tentang seseorang yang berusaha menggapai masa depan...

Melayang tanpa batas...
Luapan emosi penuh was-was...
Melangkah tegas, jatuh ku bebas...
Adakah yang menangkapku...

Mencari ku terus mencari...
Masih adakah kau disana?
Apakah kita masih terhubung?
Dalam rambatan cahaya...

Ku terus berusaha menggapai mu...
Dari tunas hingga kini miliki dahan...
Namun apa kau miliki usaha tuk jumpa...
Langkah ku mulai lemah, pikir ku mulai lung lai...

Masih terus ku berlari...
Hingga tak sadar telah kulewati tebing...
Berlari di awang, hingga ku mengambang di awangnya...
Bagaikan kartun 60-an...

Jika ku terus, tak kutemui arah berpijak...
Jika ku berhenti, ku kan jatuh bebas...
Jika ku kembali, ku kan terjerembab...
Namun kini ku terlepas dan terjatuh beabas...

Ku hantam lautan bagaikan badai...
Namun sedikit pun ragaku tak tergores...
Nafas ku berjalan, rangka ku sempurna...
Telinga ku peka..., mataku masih awas...

Di lautan pun ku masih ber asa menjumpai langit...
Demi menemukan atapku...
Demi menemukan tempat berteduh ku...
Demi mendapatkan tempat  bagi keluargaku bernaung...

Segalanya kuupayakan tuk menyentuhnya...
Ku terbang tuk cepat dengan pesawat, ku kan jatuh...
Ku menyusuri jalan dengan sepeda,ku kan di hantam...
Ku berlayar di lautan dengan kapal,ku kan tenggelam...

Ku usahakan kutumbuhkan sayap...
Namun kongruen biji apel...
Jangan kan tuk melayang bebas...
Melangkah ringkas pun tak lepas...

Haruskah kini ku muntahkan kecewa...
Setelah penatnya berusaha dan berdoa...
Meluap air mata membanjiri pipi... 
Paras memerah laiknya jambu air matang...
Urat mengetat mengukir jelas...

Sampai ku tenang pada lembayung senja...
Dengan muramnya mendung...
Dengan emosinya guntur menyambar...
Dengan rasa lemah membeku musm salju...

Hanya demi menggapai langit?

Sekali lagi dengan rasa terdalam, kini ku bertanya?
Dimanakah kau langit?
Berikan aku siulan merdu mu padaku...
Masih adakah kau langit?
Tunjukkan bias indahmu padaku...

Pertemuan melalui asa masa kecil...
Terbawa rasa karena kisah pembesarku...
Tentang dirimu yang bak dewa...
Memberi berkah dan kemudahan tuk generasi mendatang...

Yang setia selalu menunggu dan menanti...
Tapi penatkini ku mencari...
Bagaikan jarum dalam jerami...
Batas asa ku hampir tiba...
Apa ini kebodohan ku?
Dengan mudahnya percaya akan legenda?

Legenda tuk menjadi para pemimpin langit?

Selasa, 15 Maret 2016

Cinta? Masalah Kompleks Penuh Sensasi

Jujur saja, nih salah satu tulisan terberat yang penulis buat. Bukan karena penggunaan diksi atau teknik menulis,melainkan permasalahan yang begitu kompleks dan begitu rumit.

Masuk saja ke topiknya,cinta itu lebih sulit dipahami dan dilaksanakan daripada cinta. Ini bukan lah gambaran lebay penulis,tapi inilah yang penulis rasakan ketika menggarap tulisan ini. Cinta itu kadang bisa lebih sederhana darplipada atom dan bisa lebih rumit daripada alam ini, hingga menyeimbangi dengan arti Tuhan. Selama penulis menulis ini,penulis tau bahwa cinta itu tak membutuhkan sekedar kedewasaan,kematangan dan pemahaman dalam cinta. Ini terjadi pada keluarga seorang. Tak bisa sebutkan namanya.

Sudah 2 dekade lebih mereka terikat hubungan percintaan. 3 orang anak sudah mereka miliki. Bukan dikatakan muda dan tak berpengalaman lagi mereka. Selama itu mereka harusnya sudah sepaham dan mengerti satu sama lain. Sudah banyak masalah yang mereka lalui bersama. Tapi diusia pernikahan segitu,terjadi pertengkaran yang cukup wow tuk masa pernikahan itu. Padahal masalah sepele tentang komunikasi saja jadi memperburuk dan masalah. Tak sampai hitungan jam hal itu terjadi. Walau begitu kilat ,salah satu pasangan masih marah dengan pasangannya. Padahal diusia mereka yang berkepala 5.

Dari sepenggal cerita diatas membuktikan bahwa cinta itu adalah hal kompleks yang tak bisa di selesain dengan kedewasaan saja. Harus juga memiliki kebijaksanaan keduanya. Hal yang begitu rumit yang di bangga kan anak anak jaman sekarang. Mereka tak pernah tau bagaimana beratnya masalah ini.

Selain itu,dari kisah teman juga bahwa yang terkena imbas tak bijaknya kedua orang tua adalah anak itu sendiri. Dia memiliki tekanan dalam hidup dan belajar. Bahkan dia sampai membenci salah satu pihak orang tuanya.

Jujur saja,penulis pun ketika kecil sangat ingin cepat besar agar bisa merasakan cinta dengan benar. Namun sekarang,penulis sedikit hati hati dalam cinta. Tanpa adanya bijak,cinta itu tak ada apa apanya. Makanya cinta masa persekolahan itu sangat tak dibutuhkan. Hal itu hanya membuat anak anak remaja menjadi kesulitan sendiri dengan apa yang mereka perbuat. Jatuh cinta itu mudah ,tapi mempertahankan nya begitu sulit. Jadi ,sebelum jatuh cinta cobalah berpikir bijak dan resolusi berpikir. Jangan pernah memerhatikan ego sendiri. Agar tak banyak orang yang korban.

Cukup sekian cakap cakap nya, kalau ada yang kurang tolong kasih saran dikomen. Kalau bagus tolong saranin ke teman lainnya.  

Minggu, 13 Maret 2016

Diriku dalam Penulisan

    Aku tak bisa mengerti diriku.Diriku yang selalu memudahkan hal besar. Mencoba menjadi penulis di kenyataan. Ku mudah kan apa yang terbayang. Tak menghiraukan kenyataan yang kuhadapi. Yang mencoba menulis sastra tanpa ilmu. Berharap laiknya ku pujangga besar. Bahkan tuk penulis pemula pun aku bukan apa apa.
    Ingat diriku bukanlah seorang penulis handal. Yang mudahnya memuntahkan ide setiap detik nya. Untukku membutuhkan ratusan jam tuk menuliskan suatu hal. Bahkan tuk menyalinkan teks saja ku tak bisa. Berani berani nya pula ku menulis blog. Kini ku sadar aku bagaikan burung kecil. Yang berusaha terbang tinggi melampaui atmosfer,namun akhirnya ku jatuh terbakar dan terhempas di tanah bebatuan.Aku bagaikan mengambil loncatan yang begitu jauh, hingga aku tak tau kapan dan dimana ku kan berlandas.Dalam proses ini ku masih dalam loncatan itu. Kini ku hanya pasrah karena tak tau apa yang bisa kulakukan lagi. Antara ku jatuh ke kolam dalam atau terjatuh di pijakan yang keras dan tajam.
    Aku tak sadar bahwa ku bukan lagi lagi seorang penulis apalagi pujangga. Tuk menunjukkan identitas asli ku saja aku malu. Dengan label nama penulis ku tutupi malu ku. Menutupi kekurangan dengan kebanggaan biar terlihat hebat. Biar terlihat sudah mahsyur katanya. Padahal ku hanya seorang remaja bodoh yang tergesa gesa. Ku sendiri bingung dengan apa yang kutulis. Hah seperti orang bodoh kah aku? Kurasa iya, karena itu ku terus menuliskan ini. Hingga aku lemas dan mati konyol di atas kebodohan ku.
    Aku adalah salah satu dari sekian banyak orang bodoh, namun aku mungkin orang paling bodoh. Ku menulis tanpa mengerti sedikit pun tentang teori penulisan. Pasti kalian tertawa membaca tulisan ini. Tulisan yang tak miliki rule dan meluber tanpa arah. Yang kata katanya tak tepat disetiap paragraf yang salah. Aku bagaikan berjalan di tengah jalan gelap di tepian ibukota. Kriminalitas memataiku. Bersiap siap menjadi korban dengan mudahnya. Takut tuk mati dan dibayang bayangi rasa kelam. Namun masih ada binar binar di ujung jalan. Yang makin ku kejar malah makin jauh dan menghilang. Mungkin seperti itu juga nasibku dalam menulis.
    Bohong!!! Kini ku marah dengan para pujangga dan penulis tersohor itu, mereka selalu menceritakan menulis dalam tiap tulisannya adalah hal yang membebaskan. Yang membebaskan mereka dari segala belenggu kehidupan. Yang membuat ku tertarik dengan promosi pelepasan belenggu itu.Yang makan terjerembap dalam pembohongan publik. Emang kurasakan hal itu? Tidak! Aku malah makin terbelenggu akan hal itu. Tapi lagi bodohnya diriku, kubebaskan diriku terus menulis. Ketika ku menulis kan ini, mungkin langit pun akan runtuh. Menutupi kebodohan orang orang sepertiku.
    'Teruslah melontarkan fikir mu itu' ku masih terngiang kata temanku itu. Yang membuat khayalku semakin liar tentang menulis dan sastra. Tak hanya dengan itu, jemari liarku pun ikut ikutan seperti khayalku. Menyetujui apa yang khayalku pikirkan. Diriku hanyalah seorang yang bisa mengetukkan keyboard dan kontroller game.Malah ku percaya dengan omong kosong teman ku itu.Ku makin penasaran dengan ucapan dari para pujangga hingga temanku itu.Yang mendewakan tulisan sebagai pengobat jiwa. Bagaiku berjalan dilautan. Dari lautan landai menuju palung yang dalam. Ku masih merasakan pijakannya hingga ku kehilangan pijak dan batas udara. Walau ku telah dipalung, ku masih miliki asa tuk menyentuh tempat berpijak. Namun teriak ku yang lantang sudah hilang hingga napas ku berhenti. Mungkin seperti itulah diriku nanti. Hilang dalam kalut tulisan. Tangan ku sudah mulai lelah mengetikkan tulisan omong kosong ini. Semoga kalian tidak bosannya membaca tulisan bodoh ini. Tangan ku sudah mengering dan memerah. Membeku bagaikan es. Tersentuh melebur dengan kerisauan hati yang sudah dilepas kan.
Untukmu yang suka menulis,
Salam dari luka.