Rabu, 30 Maret 2016
Selasa, 29 Maret 2016
Love Puberty
Sabtu, 26 Maret 2016
Kamis, 24 Maret 2016
Masih Mencari Langit
Selasa, 15 Maret 2016
Cinta? Masalah Kompleks Penuh Sensasi
Jujur saja, nih salah satu tulisan terberat yang penulis buat. Bukan karena penggunaan diksi atau teknik menulis,melainkan permasalahan yang begitu kompleks dan begitu rumit.
Masuk saja ke topiknya,cinta itu lebih sulit dipahami dan dilaksanakan daripada cinta. Ini bukan lah gambaran lebay penulis,tapi inilah yang penulis rasakan ketika menggarap tulisan ini. Cinta itu kadang bisa lebih sederhana darplipada atom dan bisa lebih rumit daripada alam ini, hingga menyeimbangi dengan arti Tuhan. Selama penulis menulis ini,penulis tau bahwa cinta itu tak membutuhkan sekedar kedewasaan,kematangan dan pemahaman dalam cinta. Ini terjadi pada keluarga seorang. Tak bisa sebutkan namanya.
Sudah 2 dekade lebih mereka terikat hubungan percintaan. 3 orang anak sudah mereka miliki. Bukan dikatakan muda dan tak berpengalaman lagi mereka. Selama itu mereka harusnya sudah sepaham dan mengerti satu sama lain. Sudah banyak masalah yang mereka lalui bersama. Tapi diusia pernikahan segitu,terjadi pertengkaran yang cukup wow tuk masa pernikahan itu. Padahal masalah sepele tentang komunikasi saja jadi memperburuk dan masalah. Tak sampai hitungan jam hal itu terjadi. Walau begitu kilat ,salah satu pasangan masih marah dengan pasangannya. Padahal diusia mereka yang berkepala 5.
Dari sepenggal cerita diatas membuktikan bahwa cinta itu adalah hal kompleks yang tak bisa di selesain dengan kedewasaan saja. Harus juga memiliki kebijaksanaan keduanya. Hal yang begitu rumit yang di bangga kan anak anak jaman sekarang. Mereka tak pernah tau bagaimana beratnya masalah ini.
Selain itu,dari kisah teman juga bahwa yang terkena imbas tak bijaknya kedua orang tua adalah anak itu sendiri. Dia memiliki tekanan dalam hidup dan belajar. Bahkan dia sampai membenci salah satu pihak orang tuanya.
Jujur saja,penulis pun ketika kecil sangat ingin cepat besar agar bisa merasakan cinta dengan benar. Namun sekarang,penulis sedikit hati hati dalam cinta. Tanpa adanya bijak,cinta itu tak ada apa apanya. Makanya cinta masa persekolahan itu sangat tak dibutuhkan. Hal itu hanya membuat anak anak remaja menjadi kesulitan sendiri dengan apa yang mereka perbuat. Jatuh cinta itu mudah ,tapi mempertahankan nya begitu sulit. Jadi ,sebelum jatuh cinta cobalah berpikir bijak dan resolusi berpikir. Jangan pernah memerhatikan ego sendiri. Agar tak banyak orang yang korban.
Cukup sekian cakap cakap nya, kalau ada yang kurang tolong kasih saran dikomen. Kalau bagus tolong saranin ke teman lainnya.
Minggu, 13 Maret 2016
Diriku dalam Penulisan
Aku tak bisa mengerti diriku.Diriku yang selalu memudahkan hal besar. Mencoba menjadi penulis di kenyataan. Ku mudah kan apa yang terbayang. Tak menghiraukan kenyataan yang kuhadapi. Yang mencoba menulis sastra tanpa ilmu. Berharap laiknya ku pujangga besar. Bahkan tuk penulis pemula pun aku bukan apa apa.
Ingat diriku bukanlah seorang penulis handal. Yang mudahnya memuntahkan ide setiap detik nya. Untukku membutuhkan ratusan jam tuk menuliskan suatu hal. Bahkan tuk menyalinkan teks saja ku tak bisa. Berani berani nya pula ku menulis blog. Kini ku sadar aku bagaikan burung kecil. Yang berusaha terbang tinggi melampaui atmosfer,namun akhirnya ku jatuh terbakar dan terhempas di tanah bebatuan.Aku bagaikan mengambil loncatan yang begitu jauh, hingga aku tak tau kapan dan dimana ku kan berlandas.Dalam proses ini ku masih dalam loncatan itu. Kini ku hanya pasrah karena tak tau apa yang bisa kulakukan lagi. Antara ku jatuh ke kolam dalam atau terjatuh di pijakan yang keras dan tajam.
Aku tak sadar bahwa ku bukan lagi lagi seorang penulis apalagi pujangga. Tuk menunjukkan identitas asli ku saja aku malu. Dengan label nama penulis ku tutupi malu ku. Menutupi kekurangan dengan kebanggaan biar terlihat hebat. Biar terlihat sudah mahsyur katanya. Padahal ku hanya seorang remaja bodoh yang tergesa gesa. Ku sendiri bingung dengan apa yang kutulis. Hah seperti orang bodoh kah aku? Kurasa iya, karena itu ku terus menuliskan ini. Hingga aku lemas dan mati konyol di atas kebodohan ku.
Aku adalah salah satu dari sekian banyak orang bodoh, namun aku mungkin orang paling bodoh. Ku menulis tanpa mengerti sedikit pun tentang teori penulisan. Pasti kalian tertawa membaca tulisan ini. Tulisan yang tak miliki rule dan meluber tanpa arah. Yang kata katanya tak tepat disetiap paragraf yang salah. Aku bagaikan berjalan di tengah jalan gelap di tepian ibukota. Kriminalitas memataiku. Bersiap siap menjadi korban dengan mudahnya. Takut tuk mati dan dibayang bayangi rasa kelam. Namun masih ada binar binar di ujung jalan. Yang makin ku kejar malah makin jauh dan menghilang. Mungkin seperti itu juga nasibku dalam menulis.
Bohong!!! Kini ku marah dengan para pujangga dan penulis tersohor itu, mereka selalu menceritakan menulis dalam tiap tulisannya adalah hal yang membebaskan. Yang membebaskan mereka dari segala belenggu kehidupan. Yang membuat ku tertarik dengan promosi pelepasan belenggu itu.Yang makan terjerembap dalam pembohongan publik. Emang kurasakan hal itu? Tidak! Aku malah makin terbelenggu akan hal itu. Tapi lagi bodohnya diriku, kubebaskan diriku terus menulis. Ketika ku menulis kan ini, mungkin langit pun akan runtuh. Menutupi kebodohan orang orang sepertiku.
'Teruslah melontarkan fikir mu itu' ku masih terngiang kata temanku itu. Yang membuat khayalku semakin liar tentang menulis dan sastra. Tak hanya dengan itu, jemari liarku pun ikut ikutan seperti khayalku. Menyetujui apa yang khayalku pikirkan. Diriku hanyalah seorang yang bisa mengetukkan keyboard dan kontroller game.Malah ku percaya dengan omong kosong teman ku itu.Ku makin penasaran dengan ucapan dari para pujangga hingga temanku itu.Yang mendewakan tulisan sebagai pengobat jiwa. Bagaiku berjalan dilautan. Dari lautan landai menuju palung yang dalam. Ku masih merasakan pijakannya hingga ku kehilangan pijak dan batas udara. Walau ku telah dipalung, ku masih miliki asa tuk menyentuh tempat berpijak. Namun teriak ku yang lantang sudah hilang hingga napas ku berhenti. Mungkin seperti itulah diriku nanti. Hilang dalam kalut tulisan. Tangan ku sudah mulai lelah mengetikkan tulisan omong kosong ini. Semoga kalian tidak bosannya membaca tulisan bodoh ini. Tangan ku sudah mengering dan memerah. Membeku bagaikan es. Tersentuh melebur dengan kerisauan hati yang sudah dilepas kan.
Untukmu yang suka menulis,
Salam dari luka.

