Senyum manis ciri khas ku, sirna tak berjejak. Mata yang tajam, kini menanar dan berkaca-kaca. Tak menyangka ku bakal mendengar kata-kata hina itu. Rasanya ingin tamparku saja. Ucapannya begitu menyakitkan, hingga menggeliat dalam telingaku. Rasanya ingin ku potong saja telingaku. Layaknya ia singa yang menangkap mangsa. Takmungkin seorang pria marah dengan mudahnya jika tak mengenai prinsip nya. Tak mungkin seorang lelaki dengan mudahnya ingin menghujam mulut seseorang jika tak begitu rumit masalahnya.
Hem, enak saja dia mengucap seperti itu. Tanpa rasa berdosa dan salah ia menyampaikannya padaku. Jika bukan lebih tua ku habiskan saja ia dalam satu bogeman."Darimana ia mendapatkan itu semua jika tidak maling", dengan bangga meneriakkan itu padaku. Jati diri seorang pria adalah teman dan hobinya. Satu di singgung, segenap hati ia kan tersenyum licik. Menyusun strategi tuk membalas dendam kesumat seumur hidupnya. Berani mati pun ia terima. Baik pria maupun wanita, siapa yang rela jika jalan hidup diinjak-injak. Sama dengan menginjak harga diri itu namanya. Tak menyangka saya lagi, kata-kata itu keluar dari mulut seorang yang saya anggap bijak. Seorang pria yang saya idolakan dari lahir. Menghina teman saya dengan mudahnya. Bukan sekedar teman melainkan sahabat terdekat saya sekalipun. Hidup saya selalu bersama nya. Jarang pisah karena selalu berdua kemana-mana.
Cukup saya mendengar celotehan nya yang memang sedikit menyakitkan hati. Cukup saya berusaha tersenyum atas lagaknya. Kini saya ingin dia sadar, hingga jangan banyak menjadi korban keganasan mulutnya selanjutnya. Walau sekali saja ia mengganggu jati diri saya, sampai selamanya akan saya ingat kesalahannya. Cukup rasa saya ia menghancurkan jati diri saya tuk sekali saja. Cukup.
Jangan mudah menginjak harga diri seorang, jati diri adalah harta nya. Jangan pernah hajar jati diri seorang jalan hidup seseorang, jika tak mau dihajar balik. Semua orang milik kepentingan masing-masing, jangan mengganggu rasa masing-masing. Laki-laki jati dirinya adalah temannya.
Dengan rasa sakit hati jati diri dianggap sampah
@penulisilau
Hem, enak saja dia mengucap seperti itu. Tanpa rasa berdosa dan salah ia menyampaikannya padaku. Jika bukan lebih tua ku habiskan saja ia dalam satu bogeman."Darimana ia mendapatkan itu semua jika tidak maling", dengan bangga meneriakkan itu padaku. Jati diri seorang pria adalah teman dan hobinya. Satu di singgung, segenap hati ia kan tersenyum licik. Menyusun strategi tuk membalas dendam kesumat seumur hidupnya. Berani mati pun ia terima. Baik pria maupun wanita, siapa yang rela jika jalan hidup diinjak-injak. Sama dengan menginjak harga diri itu namanya. Tak menyangka saya lagi, kata-kata itu keluar dari mulut seorang yang saya anggap bijak. Seorang pria yang saya idolakan dari lahir. Menghina teman saya dengan mudahnya. Bukan sekedar teman melainkan sahabat terdekat saya sekalipun. Hidup saya selalu bersama nya. Jarang pisah karena selalu berdua kemana-mana.
Cukup saya mendengar celotehan nya yang memang sedikit menyakitkan hati. Cukup saya berusaha tersenyum atas lagaknya. Kini saya ingin dia sadar, hingga jangan banyak menjadi korban keganasan mulutnya selanjutnya. Walau sekali saja ia mengganggu jati diri saya, sampai selamanya akan saya ingat kesalahannya. Cukup rasa saya ia menghancurkan jati diri saya tuk sekali saja. Cukup.
Jangan mudah menginjak harga diri seorang, jati diri adalah harta nya. Jangan pernah hajar jati diri seorang jalan hidup seseorang, jika tak mau dihajar balik. Semua orang milik kepentingan masing-masing, jangan mengganggu rasa masing-masing. Laki-laki jati dirinya adalah temannya.
Dengan rasa sakit hati jati diri dianggap sampah
@penulisilau
From my heart, @penulisilau

0 komentar:
Posting Komentar