Aku tak bisa mengerti diriku.Diriku yang selalu memudahkan hal besar. Mencoba menjadi penulis di kenyataan. Ku mudah kan apa yang terbayang. Tak menghiraukan kenyataan yang kuhadapi. Yang mencoba menulis sastra tanpa ilmu. Berharap laiknya ku pujangga besar. Bahkan tuk penulis pemula pun aku bukan apa apa.
Ingat diriku bukanlah seorang penulis handal. Yang mudahnya memuntahkan ide setiap detik nya. Untukku membutuhkan ratusan jam tuk menuliskan suatu hal. Bahkan tuk menyalinkan teks saja ku tak bisa. Berani berani nya pula ku menulis blog. Kini ku sadar aku bagaikan burung kecil. Yang berusaha terbang tinggi melampaui atmosfer,namun akhirnya ku jatuh terbakar dan terhempas di tanah bebatuan.Aku bagaikan mengambil loncatan yang begitu jauh, hingga aku tak tau kapan dan dimana ku kan berlandas.Dalam proses ini ku masih dalam loncatan itu. Kini ku hanya pasrah karena tak tau apa yang bisa kulakukan lagi. Antara ku jatuh ke kolam dalam atau terjatuh di pijakan yang keras dan tajam.
Aku tak sadar bahwa ku bukan lagi lagi seorang penulis apalagi pujangga. Tuk menunjukkan identitas asli ku saja aku malu. Dengan label nama penulis ku tutupi malu ku. Menutupi kekurangan dengan kebanggaan biar terlihat hebat. Biar terlihat sudah mahsyur katanya. Padahal ku hanya seorang remaja bodoh yang tergesa gesa. Ku sendiri bingung dengan apa yang kutulis. Hah seperti orang bodoh kah aku? Kurasa iya, karena itu ku terus menuliskan ini. Hingga aku lemas dan mati konyol di atas kebodohan ku.
Aku adalah salah satu dari sekian banyak orang bodoh, namun aku mungkin orang paling bodoh. Ku menulis tanpa mengerti sedikit pun tentang teori penulisan. Pasti kalian tertawa membaca tulisan ini. Tulisan yang tak miliki rule dan meluber tanpa arah. Yang kata katanya tak tepat disetiap paragraf yang salah. Aku bagaikan berjalan di tengah jalan gelap di tepian ibukota. Kriminalitas memataiku. Bersiap siap menjadi korban dengan mudahnya. Takut tuk mati dan dibayang bayangi rasa kelam. Namun masih ada binar binar di ujung jalan. Yang makin ku kejar malah makin jauh dan menghilang. Mungkin seperti itu juga nasibku dalam menulis.
Bohong!!! Kini ku marah dengan para pujangga dan penulis tersohor itu, mereka selalu menceritakan menulis dalam tiap tulisannya adalah hal yang membebaskan. Yang membebaskan mereka dari segala belenggu kehidupan. Yang membuat ku tertarik dengan promosi pelepasan belenggu itu.Yang makan terjerembap dalam pembohongan publik. Emang kurasakan hal itu? Tidak! Aku malah makin terbelenggu akan hal itu. Tapi lagi bodohnya diriku, kubebaskan diriku terus menulis. Ketika ku menulis kan ini, mungkin langit pun akan runtuh. Menutupi kebodohan orang orang sepertiku.
'Teruslah melontarkan fikir mu itu' ku masih terngiang kata temanku itu. Yang membuat khayalku semakin liar tentang menulis dan sastra. Tak hanya dengan itu, jemari liarku pun ikut ikutan seperti khayalku. Menyetujui apa yang khayalku pikirkan. Diriku hanyalah seorang yang bisa mengetukkan keyboard dan kontroller game.Malah ku percaya dengan omong kosong teman ku itu.Ku makin penasaran dengan ucapan dari para pujangga hingga temanku itu.Yang mendewakan tulisan sebagai pengobat jiwa. Bagaiku berjalan dilautan. Dari lautan landai menuju palung yang dalam. Ku masih merasakan pijakannya hingga ku kehilangan pijak dan batas udara. Walau ku telah dipalung, ku masih miliki asa tuk menyentuh tempat berpijak. Namun teriak ku yang lantang sudah hilang hingga napas ku berhenti. Mungkin seperti itulah diriku nanti. Hilang dalam kalut tulisan. Tangan ku sudah mulai lelah mengetikkan tulisan omong kosong ini. Semoga kalian tidak bosannya membaca tulisan bodoh ini. Tangan ku sudah mengering dan memerah. Membeku bagaikan es. Tersentuh melebur dengan kerisauan hati yang sudah dilepas kan.
Untukmu yang suka menulis,
Salam dari luka.
Minggu, 13 Maret 2016
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar