Minggu, 11 September 2016

Ada Yang Lebih Indah Daripada Senja

Senja kembali datang dengan indahnya. Memberi suka yang begitu besar pada jiwa. Bersama harumnya secangkir chamomile tea, aku menikmati padu jingga di balkon rumah.  Ku hirup udara segar sore itu berpadu aroma chamomile yang menenangkan jiwa. Menenangkan jiwa dari gejolak emosi tiap harinya. Namun masa menenangkan jiwa bersama angin sore kali ini berjalan begitu cepat. Tak sadar ada sebuah awan besar yang dari tadi menyusup di kanvas senja. Tanpa izin, kini awan besar itu kokoh menutupi terangnya sang surya. Hanya berkas warna surya yang mengintip dari balik awan. Berkas cahaya muda yang menyelinap diluar dari pengawasan si awan raksasa. Namun sang awan mungkin sudah sadar, sehingga ia merentangkan badannya begitu lambat. Aku disini begitu memerhatikan “kejar-kejaran” antar kedua penghias langit itu.

Namun di suatu waktu, aku tercengang melihat hal yang terjadi. Masa seakan terhenti, langit tampak sangat-sangat indah seketika. Lebih indah daripada senja byang biasanya. Berkas cahaya yang tertutupi awan halus itu menciptakan pelangi yang begitu indah. Gradasi merah jingga senja pun ditambah dengan ratusan warna hasil gradasi lainnya. Seakan ada cat yang tumpah ketika Tuhan menambahkan warna pada kanvas-Nya. Semua warna membuncah menghiasi akhir senja kala itu. Secara sempurna sebagai si buta senja, aku bisa menikmati senja hanya dengan sisa-sisa warnanya. Warna dari sisa cahaya kali ini yang begitu banyak sehingga aku puas tak perlu takut akan cahaya surya yang membutakan. Dan aku begitu bersyukur akan hadirnya, si pelangi senja.


Waktu tiba-tiba mulai berjalan kembali, perlahan gugusan warna tadi beradu. Perlahan-lahan mulai memadu kembali menjadi satu warna, biru dongker. Dan seluruh langit meneduhkan warnanya, kembali merendah menjadi warna yang sama. Di sela pergantian masa, ku sisipkan ucap syukur ku kembali. Ternyata batas syukur ku masih terlalu rendah. Dan aku belum paham sejuta nikmat alam raya. Ciptaan Tuhan pemilik daya dan tanpa habis kuasa. Aku tak habis memuji asma-Nya, yang kali ini terasa lebih megah daripada pujian ku ketika masa senja biasanya. Sambil melenguskan napas, aku menyerukan satu kalimat “Nikmat Tuhan mu mana lagi yang kamu dustakan” dan hari itu pun diakhiri gema azan maghrib.

0 komentar:

Posting Komentar