Senja kembali
datang dengan indahnya. Memberi suka yang begitu besar pada jiwa. Bersama
harumnya secangkir chamomile tea, aku
menikmati padu jingga di balkon rumah. Ku hirup udara segar sore itu berpadu aroma chamomile yang menenangkan jiwa.
Menenangkan jiwa dari gejolak emosi tiap harinya. Namun masa menenangkan jiwa
bersama angin sore kali ini berjalan begitu cepat. Tak sadar ada sebuah awan
besar yang dari tadi menyusup di kanvas senja. Tanpa izin, kini awan besar itu
kokoh menutupi terangnya sang surya. Hanya berkas warna surya yang mengintip
dari balik awan. Berkas cahaya muda yang menyelinap diluar dari pengawasan si
awan raksasa. Namun sang awan mungkin sudah sadar, sehingga ia merentangkan
badannya begitu lambat. Aku disini begitu memerhatikan “kejar-kejaran” antar
kedua penghias langit itu.
Namun di suatu
waktu, aku tercengang melihat hal yang terjadi. Masa seakan terhenti, langit
tampak sangat-sangat indah seketika. Lebih indah daripada senja byang biasanya.
Berkas cahaya yang tertutupi awan halus itu menciptakan pelangi yang begitu
indah. Gradasi merah jingga senja pun ditambah dengan ratusan warna hasil
gradasi lainnya. Seakan ada cat yang tumpah ketika Tuhan menambahkan warna pada
kanvas-Nya. Semua warna membuncah menghiasi akhir senja kala itu. Secara
sempurna sebagai si buta senja, aku bisa menikmati senja hanya dengan sisa-sisa
warnanya. Warna dari sisa cahaya kali ini yang begitu banyak sehingga aku puas
tak perlu takut akan cahaya surya yang membutakan. Dan aku begitu bersyukur
akan hadirnya, si pelangi senja.
Waktu tiba-tiba
mulai berjalan kembali, perlahan gugusan warna tadi beradu. Perlahan-lahan
mulai memadu kembali menjadi satu warna, biru dongker. Dan seluruh langit
meneduhkan warnanya, kembali merendah menjadi warna yang sama. Di sela
pergantian masa, ku sisipkan ucap syukur ku kembali. Ternyata batas syukur ku
masih terlalu rendah. Dan aku belum paham sejuta nikmat alam raya. Ciptaan
Tuhan pemilik daya dan tanpa habis kuasa. Aku tak habis memuji asma-Nya, yang
kali ini terasa lebih megah daripada pujian ku ketika masa senja biasanya.
Sambil melenguskan napas, aku menyerukan satu kalimat “Nikmat Tuhan mu mana
lagi yang kamu dustakan” dan hari itu pun diakhiri gema azan maghrib.
0 komentar:
Posting Komentar