Minggu, 25 September 2016

Mencintai Bayangmu


Hasil gambar untuk siluet wanita
Teruntukmu yang mempunyai bayangan paling indah, kutuliskan surat ini untukmu.

Apakah aku bodoh selama ini mencintai mu? Yang selama ini aku hanya dihadapkan oleh bayangmu. Yang telah mengekangku selama lebih dari ratusan senja. Aku yang baru menyadari itu sekarang, kini hanya terpaku lagi menghadapi bayanganmu. Dan aku tak bisa lepas darimu.

Teringat kenapa aku bisa mencintaimu, walau aku hanya dihadapkan dengan punggungmu. Aku ingat ketika itu kita bersama mengayuh sepeda melewati rangkaian jalan menuju hutan pinus dekat rumah kita. Masa kita di akhir SMA yang saling memiliki harap menjadikan masa itu menjadi masa paling indah untuk dikenang. Kita telah menjalani rasa dan cinta bersama, maaf~hanya aku yang terlalu berharap. Mungkin saja aku telah mencintai bayangmu dari mula kita bertemu. Kita yang bertetangga dan satu sekolah ketika masa awal pubertas, dan sejak itu aku sudah menatap lekat dirimu. Atas senyummu, dan perilakumu padaku yang membuat aku tak ragu mencintamu. Aku rasakan semua itu, getaran itu, saat kita bersama dan semakin menggila ketika aku dihadapkan dengan senyummu. Aku temukan kenikmatan terbesarku saat dirimu melukiskan senyum tulusmu. Dan aku selalu terpukau akan indahnya. Namun aku selalu tak sempat memilikimu, sekalipun. Dirimu yang begitu menjadi idaman bagi siapapun pria yang mengenalmu, menyulitkan ku meilikimu, padahalku sahabat terdekatmu. Aku hanya terus tersenyum akan dirimu, yang terus-terusan dimiliki oleh yang lain.Dan hal itu membuatku terikat akan persaan ku sendiri, hingga aku tak memiliki siapapun yang bisa kucintai.

Kembali mengapa aku bisa melihat bayangmu lebih lekat. Aku yang bersamamu menyusuri hutan pinus itu dengan sepeda akhirnya terhenti pada satu pinus di tengah hutan. Pinus itu telah ditandai dengan ukiran tipis di kulit pohonnya. Terukir nama kita berdua dengan tanda hubungan kita. Aku yang masih setia dengan senyumku memiliki harap, suatu saat akan ku ubah tanda hubungan itu. Dan hari tiu, menjadi pilihan ku untuk mengubahnya. Dibawah pohon itu, kusebutkan apa yang kuinginkan darimu. Apa yang kuinginkan dari hubungan kita, dan kejujuran mu juga tentang apa yang kau inginkan. Ada secercah harap yang muncul dari balik pandanganmu, seakan kau menerima apa yang kupinta itu. Hanya sepatah kata "Ya, cinta ada pada kita", lalu kau memelukku erat bersama matahari yang kini sudah menunjukkan bayang pekatnya. Ada senyum yang terlukis jelas diwajahku, atas penantian ku selama ini. dalam pikiran ku "Aku memilikimu". Aku tak lagi berhadapan dengan punggungmu dan tak berharap memeluk bayangmu, kini ku milik dirimu. Dan aku terus menatap lekat akan bayang dirimu.

Namun setelah 10 tahun tak jumpa, setelah kejadian itu dan dipisahkan oleh jurusan kuliah, kukira cinta itu nyata. Walau kita berhubungan terus, dan aku bersiap disini untuk menjadi yang terbaik memilikimu, mempersuntingmu dan tua bersama dirimu, ternyata dirimu tak sesuai ucapanmu. Kini kau bersama pria lain, yang bukan aku. Memang benar aku seharusnya tak percaya dengan balas dari tanyaku "Bisakah aku memilikimu lebih dari sahabatku, setidaknya menjadi cintaku, kekasihku?" dengan jawaban seperti itu.

Kini aku ada di acara pernikahan dirinya, bersama pria yang beruntung memiliki dia. Suara "Sah" dari para saksi pernikahan begitu menggetarkan tubuhku. Aku tersentak hebat, seakan telinga dan tubuhku dihujam deru dan angin topan yang begitu keras. Yang menghancurkan lamunan ku, mencoba mengulang masa bersamanya. Kini aku benar-benar dalam nyata, bukan dalam mimpi atau angan ku lagi. Kali ini aku memang benar-benar dihadapkan dengan pekatnya bayangmu. Yang tak bisa kutembus dasar dari pijakan dirimu juga bayangmu. Aku ternyata tertipu akan dirimu, kukira aku telah memiliki mu seutuhnya, ternyata aku masih dibelakangmu dan tetap dihadapkan dengan bayangmu. Begitu bodohnya kah diriku termakan balas cintamu yang tak nyata. Yang membiarkan ku terlepas dalam mimpiku dan tak ada yang menarikku ke dunia nyata. Dan aku benar-benar tersiksa dengan bayanganmu. Satu lagi yang kusadari mengapa aku hanya bisa mencintai bayangmu adalah, kita hanya SAHABAT.

Kini senyumku dihiasi tangis. Entah itu tangis bahagia atau tangis kecewa, aku tak tau. Yang pasti, ada goresan pedih dihatiku. Melihatmu bersamanya, meninggalkan ku bersama denganmimpi dan angan yang kau berikan padaku. Dan kini itu semua nyata dalam rangkulan ku, dan kusiapkan untuk melepasnya. Setidaknya aku menyisakan bayanganmu, untuk kusimpan disela memoriku. Agar aku bisa mencari yang lebih darimu.

3 tahun setelah pernikahan itu,

Terima kasih telah melupakanku sahabat, janjimu kini tebakar sudah.
Dan aku tengah berdiri disini, bersama pasanganku.
Jelas dia lebih baik darimu.
Aku bisa melihatmu dengan nyata berdiri diujung ruangan sana.
Sendiri, dengan bulir air mata yang gugur mempertahankan ketegaran jiwanya.
Yang ditinggal oleh pasangannya, dan menemukan wanita lain.
Dan aku tau apa yang ada dipikiranmu,
Kau mengharapkan seseorang seperti diriku.

#SabtuMingguCurhat
@penulisilau

0 komentar:

Posting Komentar