Kamis, 07 Juli 2016

Semua Lebaran, Semua Menghadap Sendal


Gema takbir tak berhenti dari petang kemarin. Setelah matahari resmi tenggelam, semua orang riuh menyambut Syawal. Menggenggam menang, melupa Ramadan. Malam penuh dengan gema asma, hingga menyambut fajar sesudah shubuh. Semuanya bersiap dengan wewangian dan pakaian terbaiknya. Sibuk-sibuk, hingga lupa akan kewajiban shubuh.
Pagi itu, berbondong-bondong orang memenuhi lapangan. Membentang sajadah, membuat saf berdasarkan kesadaran. Burung-burung menari-nari diatas langit, seakan ikut bahagia dengan takbir nama-Nya. Bergilir orang-orang membariskan saf. Dengan koko, gamis, peci, sarung dan sorban. Berkumis atau tak, berjanggut atau tak, semuanya sama. Entah tua muda, puasa atau tidak sekalipun semua orang ingin menang. Meraih hasil tanpa usaha tak adil hasilnya. Tapi, amal ini adalah milik-Nya. Yang tau benar atau tidaknya adalah Allah. Semuanya tampak bahagia mendengar takbir sambil mengikutinya. Bertatap dengan smartphonenya, dengan buku ceramah atau sibuk sendiri dengan ucapannya, semua berbaur dalam barisan hadapan Tuhan. Barisan koran dan tikar serta sajadah menyatukan kami dalam satu garis memuja Tuhan. Yang seakan lebih utama sunnah daripada kewajiban biasanya.

Sembari bertakbir, tiba-tiba saf depan sedikit riuh. Barisan seorang sedikit mendongak melihat saf depan. Ternyata kaum berjas sudah datang. Dengan pengawal kekar berjaga didepan belakang, jajaran gubernur sudah hadir memenuhi "saf khusus". "Pemimpin ya teladan, pemimpin di depan datangnya paling lamban" dumel seorang pak tua di samping kami yang suaranya tercampur dengan takbir.  "Ulil Amri, Rasul dan 4 khalifahnya saja cukup teladan. Bukan pemimpin sekarang yang jadi teladan" lanjut ayah saya membalas ucapan pak tua tersebut yang diakhiri dengan tawa ringan bersama. Perkataannya begitu benar, seakan ia adalah dewa yang ditunggu Tuhan. Tak miliki teladan, mau didepan tapi lamban, yah kandas. Betul saja, setelah jajaran gubernur memenuhi saf depan langsung sholat id dilaksanakan. Takbir 7 kali, fokus saya langsung hilang. Ada yang aneh menurut saya ketika saya ruku. Saya melihat barisan sendal dihadapan kami semua. Kami menghadap kiblat, kiblatnya ya sendal? Waduh, saya menghadap diri pada sendal. Saya tak begitu khusyuk sholat setelah itu, bagaimana sebaiknya tempat untuk menyembah malah berhadapan dengan sendal dan sepatu. Tak miliki solusi, sendal itu akan dipindahkan kemana. Ketika salam, saya melihat ke kanan dan kiri saya. Saf ternyata tak rapat, hanya sholat dalam sajadah masing-masing. Tak mau merapatkan saf. Ayah saya bilang "namanya  darurat nak". Sunnah nabi yang mengatakan lebih baik sholat id di "lapangan", malah menjadi keadaan "darurat"?. Sementara di masjid, malah berdesak-desakan. Bersyukur antusiasme masyarakat begitu tinggi, tetapi kenapa syarat sahnya malah dikorbankan demi ingin mengikuti ibadah itu sendiri. Jadi tak sah kah sholatnya itu? "Kan lagi keadaan darurat, jadi tak apa" begitulah jawaban semua orang.

Ketika pulang, koran koran tadi berserakan di lapangan. Tak ada yang mengutip, menjadi sampah limbah."Orang lain aja ga ngumpulin? Ngapain kita kumpulin?","Rezeki orang lain tuh udah biarin aja" begitulah jawaban jawaban orang ketika saat itu. Begitu prihatin, melihat itu semua. Setelah ibadah malah kita menzalimi alam. Apakah itu yang kita inginkan? Karena saya tak mau, mulai saya kutip satu persatu koran yang ada disekitaran saya. Tak sengaja, ketika mengumpulkan koran itu saya menemukan judul yang tepat tentang ini semua pikiran itu. "SETIAP BULAN HARUSNYA SUCI" melihat semua orang hanya baik dalam Ramadan, sementara setelahnya masih saja tetap sama.


0 komentar:

Posting Komentar