Jumat, 06 Mei 2016

Beban Memikul Mukjizat


Wajah kesedihan melingkupinya. Dengan penuh gelisah dan keraguan pada dirinya. Tak yakin bahwa dirinya bisa berhasil menaklukkan dunia tanpa dua orang yang dicintainya. Hati yang masih terluka, karena ditinggal dua orang dikasihinya. Senyum yang selalu menghiasi wajahnya, kini memudar tak secerah dulu. Ia masih dalam rasa sedih yang teramat. Namun ialah utusan sang pencipta di bumi. Tak mungkin sang pengurus membiarkan dirinya larut dalam kesedihan. Suara merdu itu datang ke qalbu sang utusan. Suaranya begitu indah, membuat sang utusan yang sedang bersedih kini menjadi tersenyum kembali. Ia diundang menuju surga, menuju jalan akhir kehidupan manusia. Tak ada persiapan yang berarti darinya. Bekal iman dan perjalanan dipikulnya. Dengan senyum ia diantar. Menggunakan kendaraan kilat kiriman Tuhan. Buraq sebutannya, dibawa malaikat turun ke bumi. Dalam cahaya ia bergerak, melintasi padang pasir dengan cepat. Dari Haram menuju Aqsa, Isra pun dimulai. Dalam sekejap ia sampai, tanpa lelah langsung terbang menuju langit terjauh. Rasa gugup mulai menyeruak. Bertemu para tetua yang lebih dahulu menjadi utusan di setiap jengkal langitnya. Hingga sampai di ujung jalan, sampai tujuan bertemu Sang Pengutus. Rasa takjub tak tertampik kan. Mata terbelalak menyerap segala indah cipta Tuhan. Mulut menganga terus menerus mengucap syukur. Ia bertemu dengan Sang Pencipta, tak berani menatap mata, langsung sujud kepada Nya. Senyum kini terpatri lagi di wajahnya. Tak menyangka sudah melihat akhir dari perjalanan hidupnya. Namun rasa sedih juga melingkupinya, melihat umat bimbingannya akan masuk kedalam panasnya api neraka. Tak kuasa menahan kecewa melihat nasib nada depan para umat. Namun tuju ia diundang kesini bukanlah sekedar berkunjung. Rapat wahyu wajib akan dimulai. Negosiasi dengan para tetua tuk memperbaiki masa depan umatnya. Kewajiban sholat diterapkan. Bilangan besar keluar di awal-awalnya. Tak yakin dapat menyanggupi nya, bilangan 5 di setujui. Perjanjian itu berlaku hingga kini dan nanti. Negosiasi dan segala tugas disini telah berakhir. Tinggal penyampaian di bumi.

Sesampainya di bumi, bukanlah perkara mudah. Ternyata kebahagiaan yang dirasakannya tak sama dipikir di bumi. Para kafir mengolok ia sebagai pembual. Bahkan hasutan membuat penurunan kuantitas umat makin banyak. Namun nabi sudah biasa diperlakukan seperti itu. Namun rasa sedih masih ada dalam hati. Tak menyangka kabar baik seperti ini ditolak sebagian umatnya. Namun perjuangan meyakinkan semua umat berhasil memperbaiki keadaan lagi. Para sahabat bergiliran mendakwahkan sholat, bahkan pesan terakhir sang utusan pun tentang sholat.

Begitulah hebatnya sholat dalam Islam, tonggak pembeda Islam dan keyakinan lainnya. Bagaimana mungkin disebut Muslim yang baik jika sholat nya masih tak sempurna bahkan dilalaikan. Apakah kita tega melihat perjuangan Nabi dan sahabatnya sia-sia karena kita tak sholat? Bahkan mereka rela dicaci maki oleh lainnya karena dianggap gila. Sungguh mulus usaha mereka, dan sungguh hingga kita jika tak menghargainya. Jika mati sebelum ibadah, jika mati sebelum beriman, maka sia-sia lah hidup kita.

Medan, 27 Rajab 1437
Peringatan Isra wal Mi'raj
@penulisilau



From my heart, @penulisilau

0 komentar:

Posting Komentar