Melihat fajar dan senja, pasang muda mudi dan kehidupan jalanan begitu menginspirasi saya. Mulai dari fajar dan senja, dua hal yang begitu lekat dengan tulisan saya. Mengapa saya berani meletakkan batu masa depan saya pada sastra, hanya karena percaya pada lail dan maysiri. Dua waktu pembuka dan penutup. Dengan sejuta keindahan kanvas Tuhan. Setiap hari saya bangun dan berlari ke halaman rumah tuk melihat fajar. Jika beruntung, ku menemui sang bintang fajar. Indah menjadi salah satu orang yang pertama kali melihat Surya hari itu. Jika saya mati, setidaknya saya masih beruntung melihat keindahan hari itu. Senja datang menghampiri hidup saya, setelah penat akan aktivitas dunia ini. Senja datang dengan senyum jingga khasnya. Yang lama lama memerah dan berhias violet manja. Melihat Surya seakan tidur setelah aktivitas nya. Sungguh bahagia menjadi seseorang penikmat terakhir sang Surya. Ditemani hangatnya teh buatan bunda setiap sorenya. Biasanya juga ditemani novel teenlit atau kisah dari Dee lestari. Beruntung tinggal di gang, melihat anak2 kecil yang lebih muda dari saya bermain dengan girang.
Hidup dilingkungan para muda mudi yang masih tanggung menjadi inspirasi yang tak ada habisnya. Masalahnya begitu kompleks, terkadang hingga berlebihan. Bahkan tak bisa dipecahkan oleh akal seorang dewasa. Hidup bersama sifat dan perilaku mereka yang tak bisa ditebak dengan kealayan,gaul dan hedonis mereka. Di situlah saya mendapatkan inspirasi itu. Bermain dan bercengkrama dengan segala masalah mereka, membuat saya paham bagaimana bangganya mereka dengan kehidupan dunia. Juga dengan bangganya mereka menggantungkan cita cita nya lebih tinggi dari langit. Mereka lupa bahwa kehidupan yang aslinya ada di akhir hayat mereka. Oleh karena itu kebanyakan dari mereka mati sia-sia tanpa bisa menggapai cita-cita tinggi mereka.
Lalu hidup di jalanan, juga terhubung dengan muda mudi yang hidup bersama saya. Mereka tak datang dari kalangan yang sama, mereka berbeda satu sama lain. Dari situ juga saya mendapatkan pelajaran yang begitu berharga tentang hidup. Terus bersyukur karena miliki kecukupan melihat mereka yang memiliki kekurangan dalam hidup. Yang diajari oleh orang tua mereka sejak kecil untuk berteriak. Berteriak kepada pemerintah menolak penggusuran pinggiran rel. Diajarkan tuk berusaha sejak kecil. Berjualan yang normal dari asongan hingga yang "abnormal" mulai ganja dan serikatnya. Dan melayangkan cita setinggi-tingginya melihat teman yang begitu hedonis, berusaha hidup bergelimpangan harta padahal hanyalah tipu daya. Mereka yang hanya hidup kaya karena harta berian orang tua. Saya tau itu semua karena saya pernah merasakan semuanya. Hidup yang bisa dibilang "besar-besar di jalanan". Paham ketika pulang sekolah belok ke suatu jalan kecil. Menuju kedai kelontong milik pak haji dan menunggu seorang penjual es lilin sekolahan.Ketika si penjual es datang, disitulah tugas saya bermula saya akan mulai membantu membawa es-es batu ke gerobak es nya. Dengan upah yang cukup besar pada zaman itu per buahnya. Apalah daya seorang anak kelas 2 SD membawa batu es yang cukup berat itu. Saya hanya bisa membawa 2 hingga 5 batu es saja dalam sekali bawa, itupun kalau ada gerobak tak terpakai punya orang. Tak ada yang bisa saya ingat dari kenangan itu, hanya ingat masih dalam bayang senyum dari dua orang tadi yang terus menyemangati saya. Letak pasti, hingga nama dari kedua orang itu pun saya lupa. Namun pengalaman yang mereka sajikan pada saya, membentuk saya yang sekarang. Paham akan sulitnya mencari uang dan mengajari saya untuk jangan dengan mudahnya menghamburkan harta. Sisi lain juga dari jalanan pun sudah saya rasakan. Keluar di malam hari bersama muda mudi yang hidup bersama saya. Berkumpul di sudut taman kota, dengan baju kebesaran khas anak zaman, kami mulai beraksi. Kami setidaknya akan dance seperti Dougie ataupun Shuffling.Di hujani temaram lampu taman. Dengan senyum dan bingar yang kami hasilkan, membuat kami menjadi satu dalam padu ketukan up-beat. Memang segala bahaya gemerlap malam hampir saja mengelabui kami semua. Untung saja sebagian selamat dari hal itu, walau ada juga yang terjerumus ke dalam nya. Namun malam begitu menginspirasi saya membuat karya tulis yang dramatis.
Film juga membantu membentuk keinginan saya menulis.AADC series,film adaptasi novel Asma Nadia dan Dee Lestari, novel series dari Heri Putra juga membentuk saya dengan baik. Teristimewa Heri Putra, Perahu Kertas dan AADC. Mereka memaksa saya masuk dalam dunia yang sedikit asing bagi saya, bagaimana mungkin pecinta logika menjadi penyuka sastra. Namun tak ada satupun kata sesal dalam diri saya, terus terukir senyum semangat menulis. Puisi yang diselipkan di dalam novel dan film itu membuat saya luluh dan terharu. Bahkan puisi Rangga di AADC bisa dibilang biang Madre di puisi puisi saya. Jika saya lagi buntu, saya akan terus mengulang puisi tersebut hingga saya dapat ide kembali.
Lagi satu lagi adalah keluarga. Keluarga yang begitu aneh membentuk saya. Sang kepala keluarga adalah penikmat sastra, statis, realistis dan ekonom fanatis. Ibu adalah seorang pesimis namun aneh nya berpikiran dinamis. Syang kakak kedua yang terpaku dalam gambar hidupnya. Sementara kami berdua, kakak beradik yang tak begitu paham sastra yang hanya menyukai tulisan. Kakak pertama sangat menginspirasi saya. Ia salah satu panutan saya setelah Nabi Muhammad. Betapa spesialnya ia dalam hidup saya, ia terus mengingatkan saya dalam baik buruknya. Ia lebih memahami saya daripada saya sendiri. Orang yang memiliki banyak jalan hidup, yang bisa menyeimbangkan akal dan khayal dalam satu kanvas walau dalam pelaksanaan nya sedikit berlebihan. Tapi ia tetap menjadi inspirasi menulis yang paling utama.
Begitu banyak senyum yang bisa kita toreh dari para inspirator kita. Sebenarnya kita tak butuh hal atau siapa yang inspiratif. Karena dalam diri kita sendiri ada tanda inspirasi yang menuntun jalan kita.
Karya Inspirasi -@penulisilau-