Senin, 09 Mei 2016

Ketika Jati Diri Di Injak-injak

Senyum manis ciri khas ku, sirna tak berjejak. Mata yang tajam, kini menanar dan berkaca-kaca. Tak menyangka ku bakal mendengar kata-kata hina itu. Rasanya ingin tamparku saja. Ucapannya begitu menyakitkan, hingga menggeliat dalam telingaku. Rasanya ingin ku potong saja telingaku. Layaknya ia singa yang menangkap mangsa. Takmungkin seorang pria marah dengan mudahnya jika tak mengenai prinsip nya. Tak mungkin seorang lelaki dengan mudahnya ingin menghujam mulut seseorang jika tak begitu rumit masalahnya.

Hem, enak saja dia mengucap seperti itu. Tanpa rasa berdosa dan salah ia menyampaikannya padaku. Jika bukan lebih tua ku habiskan saja ia dalam satu bogeman."Darimana ia mendapatkan itu semua jika tidak maling", dengan bangga meneriakkan itu padaku. Jati diri seorang pria adalah teman dan hobinya. Satu di singgung, segenap hati ia kan tersenyum licik. Menyusun strategi tuk membalas dendam kesumat seumur hidupnya. Berani mati pun ia terima. Baik pria maupun wanita, siapa yang rela jika jalan hidup diinjak-injak. Sama dengan menginjak harga diri itu namanya. Tak menyangka saya lagi, kata-kata itu keluar dari mulut seorang yang saya anggap bijak. Seorang pria yang saya idolakan dari lahir. Menghina teman saya dengan mudahnya. Bukan sekedar teman melainkan sahabat terdekat saya sekalipun. Hidup saya selalu bersama nya. Jarang pisah karena selalu berdua kemana-mana.

Cukup saya mendengar celotehan nya yang memang sedikit menyakitkan hati. Cukup saya berusaha tersenyum atas lagaknya. Kini saya ingin dia sadar, hingga jangan banyak menjadi korban keganasan mulutnya selanjutnya. Walau sekali saja ia mengganggu jati diri saya, sampai selamanya akan saya ingat kesalahannya. Cukup rasa saya ia menghancurkan jati diri saya tuk sekali saja. Cukup.

Jangan mudah menginjak harga diri seorang, jati diri adalah harta nya. Jangan pernah hajar jati diri seorang jalan hidup seseorang, jika tak mau dihajar balik. Semua orang milik kepentingan masing-masing, jangan mengganggu rasa masing-masing. Laki-laki jati dirinya adalah temannya.

Dengan rasa sakit hati jati diri dianggap sampah
@penulisilau


From my heart, @penulisilau

Jumat, 06 Mei 2016

Beban Memikul Mukjizat


Wajah kesedihan melingkupinya. Dengan penuh gelisah dan keraguan pada dirinya. Tak yakin bahwa dirinya bisa berhasil menaklukkan dunia tanpa dua orang yang dicintainya. Hati yang masih terluka, karena ditinggal dua orang dikasihinya. Senyum yang selalu menghiasi wajahnya, kini memudar tak secerah dulu. Ia masih dalam rasa sedih yang teramat. Namun ialah utusan sang pencipta di bumi. Tak mungkin sang pengurus membiarkan dirinya larut dalam kesedihan. Suara merdu itu datang ke qalbu sang utusan. Suaranya begitu indah, membuat sang utusan yang sedang bersedih kini menjadi tersenyum kembali. Ia diundang menuju surga, menuju jalan akhir kehidupan manusia. Tak ada persiapan yang berarti darinya. Bekal iman dan perjalanan dipikulnya. Dengan senyum ia diantar. Menggunakan kendaraan kilat kiriman Tuhan. Buraq sebutannya, dibawa malaikat turun ke bumi. Dalam cahaya ia bergerak, melintasi padang pasir dengan cepat. Dari Haram menuju Aqsa, Isra pun dimulai. Dalam sekejap ia sampai, tanpa lelah langsung terbang menuju langit terjauh. Rasa gugup mulai menyeruak. Bertemu para tetua yang lebih dahulu menjadi utusan di setiap jengkal langitnya. Hingga sampai di ujung jalan, sampai tujuan bertemu Sang Pengutus. Rasa takjub tak tertampik kan. Mata terbelalak menyerap segala indah cipta Tuhan. Mulut menganga terus menerus mengucap syukur. Ia bertemu dengan Sang Pencipta, tak berani menatap mata, langsung sujud kepada Nya. Senyum kini terpatri lagi di wajahnya. Tak menyangka sudah melihat akhir dari perjalanan hidupnya. Namun rasa sedih juga melingkupinya, melihat umat bimbingannya akan masuk kedalam panasnya api neraka. Tak kuasa menahan kecewa melihat nasib nada depan para umat. Namun tuju ia diundang kesini bukanlah sekedar berkunjung. Rapat wahyu wajib akan dimulai. Negosiasi dengan para tetua tuk memperbaiki masa depan umatnya. Kewajiban sholat diterapkan. Bilangan besar keluar di awal-awalnya. Tak yakin dapat menyanggupi nya, bilangan 5 di setujui. Perjanjian itu berlaku hingga kini dan nanti. Negosiasi dan segala tugas disini telah berakhir. Tinggal penyampaian di bumi.

Sesampainya di bumi, bukanlah perkara mudah. Ternyata kebahagiaan yang dirasakannya tak sama dipikir di bumi. Para kafir mengolok ia sebagai pembual. Bahkan hasutan membuat penurunan kuantitas umat makin banyak. Namun nabi sudah biasa diperlakukan seperti itu. Namun rasa sedih masih ada dalam hati. Tak menyangka kabar baik seperti ini ditolak sebagian umatnya. Namun perjuangan meyakinkan semua umat berhasil memperbaiki keadaan lagi. Para sahabat bergiliran mendakwahkan sholat, bahkan pesan terakhir sang utusan pun tentang sholat.

Begitulah hebatnya sholat dalam Islam, tonggak pembeda Islam dan keyakinan lainnya. Bagaimana mungkin disebut Muslim yang baik jika sholat nya masih tak sempurna bahkan dilalaikan. Apakah kita tega melihat perjuangan Nabi dan sahabatnya sia-sia karena kita tak sholat? Bahkan mereka rela dicaci maki oleh lainnya karena dianggap gila. Sungguh mulus usaha mereka, dan sungguh hingga kita jika tak menghargainya. Jika mati sebelum ibadah, jika mati sebelum beriman, maka sia-sia lah hidup kita.

Medan, 27 Rajab 1437
Peringatan Isra wal Mi'raj
@penulisilau



From my heart, @penulisilau

Terinspirasi


Melihat fajar dan senja, pasang muda mudi dan kehidupan jalanan begitu menginspirasi saya. Mulai dari fajar dan senja, dua hal yang begitu lekat dengan tulisan saya. Mengapa saya berani meletakkan batu masa depan saya pada sastra, hanya karena percaya pada lail dan maysiri. Dua waktu pembuka dan penutup. Dengan sejuta keindahan kanvas Tuhan. Setiap hari saya bangun dan berlari ke halaman rumah tuk melihat fajar. Jika beruntung, ku menemui sang bintang fajar. Indah menjadi salah satu orang yang pertama kali melihat Surya hari itu. Jika saya mati, setidaknya saya masih beruntung melihat keindahan hari itu. Senja datang menghampiri hidup saya, setelah penat akan aktivitas dunia ini. Senja datang dengan senyum jingga khasnya. Yang lama lama memerah dan berhias violet manja. Melihat Surya seakan tidur setelah aktivitas nya. Sungguh bahagia menjadi seseorang penikmat terakhir sang Surya. Ditemani hangatnya teh buatan bunda setiap sorenya. Biasanya juga ditemani novel teenlit atau kisah dari Dee lestari. Beruntung tinggal di gang, melihat anak2 kecil yang lebih muda dari saya bermain dengan girang.

Hidup dilingkungan para muda mudi yang masih tanggung menjadi inspirasi yang tak ada habisnya. Masalahnya begitu kompleks, terkadang hingga berlebihan. Bahkan tak bisa dipecahkan oleh akal seorang dewasa. Hidup bersama sifat dan perilaku mereka yang tak bisa ditebak dengan kealayan,gaul dan hedonis mereka. Di situlah saya mendapatkan inspirasi itu. Bermain dan bercengkrama dengan segala masalah mereka, membuat saya paham bagaimana bangganya mereka dengan kehidupan dunia. Juga dengan bangganya mereka menggantungkan cita cita nya lebih tinggi dari langit. Mereka lupa bahwa kehidupan yang aslinya ada di akhir hayat mereka. Oleh karena itu kebanyakan dari mereka mati sia-sia tanpa bisa menggapai cita-cita tinggi mereka.

Lalu hidup di jalanan, juga terhubung dengan muda mudi yang hidup bersama saya. Mereka tak datang dari kalangan yang sama, mereka berbeda satu sama lain. Dari situ juga saya mendapatkan pelajaran yang begitu berharga tentang hidup. Terus bersyukur karena miliki kecukupan melihat mereka yang memiliki kekurangan dalam hidup. Yang diajari oleh orang tua mereka sejak kecil untuk berteriak. Berteriak kepada pemerintah menolak penggusuran pinggiran rel. Diajarkan tuk berusaha sejak kecil. Berjualan yang normal dari asongan hingga yang "abnormal" mulai ganja dan serikatnya. Dan melayangkan cita setinggi-tingginya melihat teman yang begitu hedonis, berusaha hidup bergelimpangan harta padahal hanyalah tipu daya. Mereka yang hanya hidup kaya karena harta berian orang tua. Saya tau itu semua karena saya pernah merasakan semuanya. Hidup yang bisa dibilang "besar-besar di jalanan". Paham ketika pulang sekolah belok ke suatu jalan kecil. Menuju kedai kelontong milik pak haji dan menunggu seorang penjual es lilin sekolahan.Ketika si penjual es datang, disitulah tugas saya bermula saya akan mulai membantu membawa es-es batu ke gerobak es nya. Dengan upah yang cukup besar pada zaman itu per buahnya. Apalah daya seorang anak kelas 2 SD membawa batu es yang cukup berat itu. Saya hanya bisa membawa 2 hingga 5 batu es saja dalam sekali bawa, itupun kalau ada gerobak tak terpakai punya orang. Tak ada yang bisa saya ingat dari kenangan itu, hanya ingat masih dalam bayang senyum dari dua orang tadi yang terus menyemangati saya. Letak pasti, hingga nama dari kedua orang itu pun saya lupa. Namun pengalaman yang mereka sajikan pada saya, membentuk saya yang sekarang. Paham akan sulitnya mencari uang dan mengajari saya untuk jangan dengan mudahnya menghamburkan harta. Sisi lain juga dari jalanan pun sudah saya rasakan. Keluar di malam hari bersama muda mudi yang hidup bersama saya. Berkumpul di sudut taman kota, dengan baju kebesaran khas anak zaman, kami mulai beraksi. Kami setidaknya akan dance seperti Dougie ataupun Shuffling.Di hujani temaram lampu taman. Dengan senyum dan bingar yang kami hasilkan, membuat kami menjadi satu dalam padu ketukan up-beat. Memang segala bahaya gemerlap malam hampir saja mengelabui kami semua. Untung saja sebagian selamat dari hal itu, walau ada juga yang terjerumus ke dalam nya. Namun malam begitu menginspirasi saya membuat karya tulis yang dramatis.

Film juga membantu membentuk keinginan saya menulis.AADC series,film adaptasi novel Asma Nadia dan Dee Lestari, novel series dari Heri Putra juga membentuk saya dengan baik. Teristimewa Heri Putra, Perahu Kertas dan AADC. Mereka memaksa saya masuk dalam dunia yang sedikit asing bagi saya, bagaimana mungkin pecinta logika menjadi penyuka sastra. Namun tak ada satupun kata sesal dalam diri saya, terus terukir senyum semangat menulis. Puisi yang diselipkan di dalam novel dan film itu membuat saya luluh dan terharu. Bahkan puisi Rangga di AADC bisa dibilang biang Madre di puisi puisi saya. Jika saya lagi buntu, saya akan terus mengulang puisi tersebut hingga saya dapat ide kembali.

Lagi satu lagi adalah keluarga. Keluarga yang begitu aneh membentuk saya. Sang kepala keluarga adalah penikmat sastra, statis, realistis dan ekonom fanatis. Ibu adalah seorang pesimis namun aneh nya berpikiran dinamis. Syang kakak kedua yang terpaku dalam gambar hidupnya. Sementara kami berdua, kakak beradik yang tak begitu paham sastra yang hanya menyukai tulisan. Kakak pertama sangat menginspirasi saya. Ia salah satu panutan saya setelah Nabi Muhammad. Betapa spesialnya ia dalam hidup saya, ia terus mengingatkan saya dalam baik buruknya. Ia lebih memahami saya daripada saya sendiri. Orang yang memiliki banyak jalan hidup, yang bisa menyeimbangkan akal dan khayal dalam satu kanvas walau dalam pelaksanaan nya sedikit berlebihan. Tapi ia tetap menjadi inspirasi menulis yang paling utama.
                                         
Begitu banyak senyum yang bisa kita toreh dari para inspirator kita. Sebenarnya kita tak butuh hal atau siapa yang inspiratif. Karena dalam diri kita sendiri ada tanda inspirasi yang menuntun jalan kita.
Karya Inspirasi -@penulisilau-



From my heart, @penulisilau

Kamis, 05 Mei 2016

Ada Apa Dengan Cinta?


Jutaan sajak mengurai namanya
Jutaan melodi mengantarkan kita padanya
Mengalun merantai, membentuk simfoni
Dan menyatu dalam sajak berbait menjadi lagu

Semua itu mengantarkan kita pada cinta
Berusaha memahami cinta
Tapi tak satu pun yang paham dengan nya
Bahkan seorang cendekiawan saja masih diam

Tanpa paham dari siapapun
Bagaimana kita bisa hidup bersama nya
Bagaimana mungkin pahamnya bisa sama dengan Tuhan
Tak miliki deskripsi, namun dipuja bersama dalam hidup

Sekali lagi, jutaan sajak memuja namanya     
Menyebutnya penghidup jiwa
Lentera dalam gelap, kebingaran dalam senyap
Namun nafas tak seiya dengan ucapan

Ada apa dengan cinta?
Datang bersama suka
Pergi dengan duka bahkan sebaliknya
Bersama sama memeluk kasih,sekaligus mencengkram hati

Terhibur dalam senyap, takut dalam bingar
Itulah cinta yang ku ketahui
Yang membuat hati luluh
Yang membuat hati tangguh

Ada apa dengan cinta?
Jika datang ku kan bersembunyi
Atau ku harus tunjuk diri
Dengan senyum tersimpul, atau amarah yang mengepul

Ada apa dengan cinta?
Mengapa ia bisa merubah jiwa?
Mengapa hati buta dalam lihat
Mengapa hati tuli dalam dengar?

Maafkan senyum yang terukir
Maafkan hati yang menerima
Kini bibir tak bersilat
Kini hati tergembok emosi

Jika kau datang lagi
Jangan harap ku menerima dengan kasih
Terus lah berjalan menunggu purnama
Hingga Surya maaf dalam petang

Untuk hati yang masih berusaha memahami cinta
@penulisilau



From my heart, @penulisilau