| Ku Bertahan |
Kini kau kembali
Dengan senyum tawa khas mu
Pulang dari hantam sakit hati
Setelah melupa sejenak cahaya disini
Lampau, ku selalu setia padamu
Dalam pijar atau gelap mu
Dalam genggam ku
Atau dalam dekapan sang pemuja barumu
Takkan pernah ada fajar yang sama
Setiap waktu dan detail selalu berbeda
Begitulah rasa cinta,
Rasa saat kau pergi dan kembali
Takkan pernah serupa
Setelah diselubungi cinta ku
Dalam sejuknya mata air asmara
Dengan mudahnya kau menghilang dari mata air ku
Yang selalu menghidupkan dan menyejukkan mu
Pada mata air lainnya yang tak sesejuk milik ku
Begitu banyak air mata yang tumpah
Begitu banyak tinta yang kugoreskan
Dalam ribuan lembar putih
Di temani tenangnya malam dengan sinar temaram
Banyak filsuf ku cari
Banyak falsafah ku rangkum
Berpikir keras tuk temukan satu kata untuknya
'Beda',itulah yang di cariku
Tak lebih baik, namun berbeda
Tujuan sederhana yang begitu aneh
Mengganti besi, dengan membeli kayu
Mengganti kasih sayng dengan keindahan rupa
Kini senyum mu mengunci ku kembali
Sama ketika cinta itu mucul pada mulanya
Yang membelenggu diriku, hingga tersesak dada ku
Kehabisan nafas, menahan kegirangan
Namun bayang masa lalu
Masih menutupi pandangan cerahnya masa depan
Ketika fajar kau sajikan, ku girang bukan main
Namun ketika malam itu kembali, ia menghapus semua angan ku
Menghapus pelangi indahnya kembali cinta
Ketika bulan muncul, siapa lagi yang mengingat surya
Mereka riang dengan bulan yang lebih penting
Berfikir bulan menyinari bumi di gelapnya malam
Tak seperti matahari, yag datang pada cerahnya siang
Namun, mereka tak pernah sadar matahari selalu sibuk menyinari bulan
Di malam hari, di balik layar kemilau malam
Begitulah keadaan kita
Ketika dia datang, ia bagaikan bulan yang selalu dielu-elukan
Sementara aku, hanya menjadi muntahan cinta mu
Padahal yang saya lakukan lebih darinya
Namun tak ada satupun yang mengindahkan ku
Ku teronggok disini
Sendiri dalam sedih dan sunyi
Hingga kau hampiri aku kembali
Menghamburkan tawa, menghancurkan pertahanan hati
Ratusan insan ku goda
Hingga mencinta pada saya
Namun bayang-bayang itu menyelubungi hati
Bayangan cintamu, Nady
Datanglah kemari sebagai bidadari
Bukan datang 'layaknya bidadari'
Karena ku sudah lelah membangun benteng ini
Ketika kau datang saja sudah kau robohkan benteng ini
Apalagi jika kamu mendekat, Istana ku hancur berkeping-keping
Rasa kembalinya bidadari dari surgawi
@penulisilau
0 komentar:
Posting Komentar