Sabtu, 15 Oktober 2016

Sang Pemilik Kuasa Cinta

Sang Pemilik Kuasa Cinta

Untukmu pribadi masa lalu
Aku tau kau bukan lagi milikku
Ku tau juga kau sudah bersama yang lain
Tapi izinkan aku mengadu dalam ingin

Padamu masa laluku
Aku disini sepi menghirup debu
Meratap sendu kenangan berdua
Yang kita ciptakan atas nama cinta

Teruntuk diri rang kulepaskan
Ada rasa sesal di akhir perpisahan
Ku akui itu dalam kerinduan ku
Pada jalinan kasih antara aku dan kamu

Milikmu senyum termanis
Masih terukir rapi tak tertepis
Hatiku masih dimilikimu
Namun aku tak bisa lepas akan salahku

Betapa bodohnya diri
Melepas hati milik kekasih
Membohongi diri juga kalbu
Aku tertipu dengan amarahku

Kepadamu penguasa relung hati
Aku bersumpah atas pemilik jagat raya
Ku melepas pohon kenangan mu setengah mati
Hingga ku sadar, kau tertanam di dasar jiwa

Padamu yang punya kuasa kenangan
Aku bersimpuh tak berdaya
Usaha melepasmu sia-sia
Aku tak berdaya, Pada Pemilik Kuasa Cinta

@penulisilau

Minggu, 02 Oktober 2016

Hijrah? Kembali Ke Masa Lalu


Alhamdulillah, puji syukur kita hadiratkan kepada Allah SWT yang mana telah mengizinkan kita masih bernafas dan menambah amalan hingga tahun 1438 Hijriah ini. Shalawat beriring salam kita hadiahkan kepada Nabi kita, Muhammad SAW, yang akan menyampaikan syafaat-Nya di hari akhir kelak bagi umatnya yang begitu mencintainya. Tahun hijriah, perhitungan tanggal nya umat Islam. Yang diatur pertama kali oleh Umar ibn Khattab. Lalu, apa sebenarnya tahun hijriah itu? Apa makna nya? Apa yang harus kita lakukan dengan adanya perhitungan tahun ini? Jawabannya, Kembali Ke Masa Lalu!!!

Seperti judul dari tulisan ini, makna hijrah dalam makna mendasarnya adalah berpindah, berubah. Lha, kan berubah, bukan kembali, berarti salah dong jawabannya? Tidak. Lihatlah kembali penetapan sejarah hijrah itu. Pada mulanya, di zaman nabi memiliki perbedaan penanggalan di setiap daerahnya. Hal ini menyulitkan surat-menyurat pada zaman itu. Sebagai acuan seluruh dunia, ada penanggalan dari Romawi yang disebut Masehi, dengan mengikuti waktu musim dan revolusi bumi terhadap matahari. Namun, daerah kekuasaan Islam tidak menggunakan itu. Mereka menggunakan sistem kalender bulan namun dalam penyesuaian kalender matahari (Nasi') yang berasal dari suku Quraisy. Namun, Allah melarang hal itu dengan menurunkan At Taubah ayat 38-39 dan menggantikannya dengan sistem penentuan 4 bulan haram. Ayat inilah yang menjadikan acuan perhitungan penanggalan hijriah. Karena kebutuhan administrasi, akhirnya terbentuklah penanggalan hijriah. Namun, penanggalan ini masih mempunyai kekurangan yang belum bisa menyelesaikan permasalahan penanggalan administrasi. Hingga pada zaman Umar, dilakukan lah penentuan awal tahun hijriah. Dan dari berbagai pilihan, terpilih lah tanggal hijrah Nabi Muhammad ke Madinah menjadi penetapan 1 Muharram.

Lalu mengapa dipilih tanggal hijrah Nabi? Tanggal ini dipilih oleh dewan Umar pada saat itu karena memiliki pesan penting yang ingin disampaikan dengan memperingati tahun Hijriah. Nabi ketika sebelum hijrah, ia mengalami kesulitan mengembangkan dakwah Islam. Pada saat di Mekkah, nabi sering sekali di serang, dicaci maki. Bahkan bukan nabi saja, melainkan para umat Islam lainnya. Mereka disiksa, diambil hartanya bahkan, hingga dibunuh. Karena alasan kesulitan menyebarkan dakwah dan juga keamanan umat Islam, akhirnya nabi memilih Hijrah atas perintah Allah menuju Madinah. Perjalanan hijrah ini juga bukan mudah, umat Islam ketika itu pun mesti berangsur-angsur untuk melakukan hijrah agar tak dicurigai dan dicegat oleh kaum kafir. Karena pada masa itulah para kafir sedang gencarnya menghabisi umat Nabi dengan mengisolasi pergerakan mereka. Namun dengan izin Allah, umat Islam, Nabi beserta sahabatnya pun berhasil sampai Madinah dengan meninggalkan harta mereka di Mekkah. Alhamdulillah, masyarakat Madinah menerima mereka dengan baik. Mereka berbagi makan yang sama, tempat tinggal yang sama dan juga perlakuan yang sama. Hal ini terdengar hingga masyarakat kafir, mereka pun melakukan propaganda dan penghasutan agar mengusir umat Islam. Namun, hal ini digagalkan oleh masyarakat Madinah itu sendiri. Mereka tak merasa keberatan dan menolak semua hasutan itu karena melihat perilaku dan adab umat Islam yang begitu baik dan tak sesuai dengan hasutan tersebut. Dan sumber dari kebaikan ini semua ada pada Al Quran dan Sunnah Nabi. Karena hal itulah, masyarakat Madinah yang berbaur dengan umat Islam itu pun menjadi kesatuan umat Islam yang besar dan syariat Islam sukses besar di Madinah. Dan kejayaan di Madinah pun menyebar ke daerah lainnya.

Itulah kisah yang menginspirasi penetapan tanggal 1 Muharram tahun Hijriah. Lalu apa pesan dari kisah itu?

Kita sebagai umat Islam harus lah memiliki tekad persatuan dalam berbangsa seperti tujuan dari pembentukan Tahun Hijriah, menyatukan umat. Selain itu, momen tahun baru ini mari kita jadikan momen untuk benar-benar berhijrah dalam bentuk berjihad. Memperjuangkan apa yang kita pahami dan impikan, umat Islam yang bersatu. Bagaimana caranya? Kembali Ke Masa Lalu. Lihatlah Al Quran yang dituliskan 1400 tahun lalu itu. Tak ada lagi pedoman yang bisa kita cari di masa sekarang untuk berhidup selain Al Quran. Jadikan lah Al Quran dan Sunnah mem pengaruhi hidupmu. Jalani hidup dengan Al Quran dan Sunnah. Lalu kembali muncul pertanyaan, jika berpedoman dengan Al Quran dan Sunnah sudah cukup, kenapa masih saja ada kefanaan dalam diri? Itu karena kamu tak menjalani Al Qur'an dan Sunnah secara mutlak dan keseluruhan. Melihat kesamaan dalam pemahaman, bukan melihat perbedaan dalam pemahaman. Jika kita berhidup secara Qurani di seluruh aspek, In sya Allah kita merasa terus bersyukur dalam hidup.

Intinya, hijrah bukan sekedar lihat ke depan. Tapi jalan ke depan sambil berpedoman dengan masa lalu. Masa lalu itu adalah Al Quran dan Sunnah juga perjuangan dan kisah dari para Nabi. Hijrah berpedoman Al Quran dan Sunnah.